Jika hari kita ditanya tentang kartini, maka sulit rasanya melepas kartini dari istilah emansipasi wanita. Namun sayang, banyak orang salah mengartikan makna dari emansipasi wanita itu sendiri. Sangat Jauh dari cita-cita luhur yang dikehendaki Kartini. Atas nama kebebasan, seni, atau kesetaraaan, wanita justru banyak direndahkan. Parahnya ada orang yang dengan berani membenturkan makna emansipasi wanita dengan nilai-nilai islam. Islam dianggap menempatkan wanita sebagai mahluk kelas rendah. Mulai dari masalah poligami, warisan, hak talak, saksi dan lain-lain.Jauh Sebelum telinga kita akrab dengan istilah emasipasi wanita, ala Kartini. Islam telah memberikan gambaran kemuliaan bagi wanita, menggangkat derajat serta meninggikan statusnya. Dua surat di dalam Al Quran diberi nama dengan nama wanita; An-nisa dan Maryam. Dalam surat Al Baqaraah terdapat 21 ayat berturut-turut yang berbicara tentang wanita. Begitu juga dalam surah An nur, Al Ahzab, dan At Tahrim, sebagian besar ayat ayatnya berbicara tentang wanita. Ini menunjukan tingginya posisi wanita dalam Islam.
Wanita adalah ketenangan dan kebahagiaan hati rosulullah S.A.W. beliau minum dari gelas yang sama dari istrinya. Beliau pergi bersama isterinya, berlomba bersama isterinya dan bercanda dengan isterinya. Rosulullah datang kepada Khadijah setelah datang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar karena takut: "selimuti aku... selimuti aku". Kemudian khadijah memeluknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Dia tautkan hatinya dengan hati beliau. Dia tanamkan harapan posotif dalam diri beliau dengan kata-kata yang dicatat oleh sejarah. " Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan menyakitimu selamanya. Sesungguhnya engkau menyambung tali silaturahim, engkau jujur dalam perkataan, engkau menanggung semua beban, engkau menghormati tamu, dan engkau menolong orang-orang yang berbuat kebenaran. Begitulah Khadijah berdiri di samping Rasulullah S.A.W menyerahkan semua kemampuan dan hartanya untuk penyebaran kebenaran dan panji tauhid.
Setelah khadijah wafat panji Islam kemudian dipegang oleh Aisyah R.A. Aisyah adalah guru bagi wanita. Ia adalah mata air ilmu setelah kepergian Rasulullah S.A.W melalui ribuan hadits bersumber darinya. Pada peristiwa haji wada Aisyah datang bersama Rosulullah S.A.W. Ia bersama wanita-wanita mukminah lainnya mengairi tempat-tempat haji. Ketika itu wanita-wanita mukminah dalam keadaan terbuka wajahnya. Lalu datang serombongan laki-laki mukmin di depan mereka. Maka mereka segera menutupi wajah-wajah mereka. Lihatlah kemuliaan para wanita di samping Aisyah R.A. Mereka tidak ingin menjadi fitnah dihadapan kaum muslimin.
Wanita adalah kelembutan. Tapi tidak berarti ia lemah. Di balik kelembutan itu ada kekuatan besar yang tersimpan. Lihatlah Asma Binti Abu Bakar yang ikut menyertai perjalanan dakwah Rasulullah S.A.W. Asma adalah orang yang bertugas mengantarkan makanan ketika Rosulullah S.A.W dan ayahnya bersembunyi di gua Tsur. Di tengah terik panas padang pasir yang menyengat dan jarak perjalanan ke gua yang jauh ia tak menemukan sesuatu untuk mengikat bekal yang ia bawa. Akhirnya Asma merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian. Satu bagian ia gunakan untuk mengikat bekal yang ia bawa dan diikatkan di pinggangnya dengan bagian yang lain. Oleh karena itu Asma dijuluki dzatu nithaqaini (orang yang mempunyai dua pinggang). Dialah wanita yang ikut berperan dalam kemenangan dan menyempurnakan langkah hijrah.
Disinilah kita melihat keutamaan dan peran wanita mukminah dalam perjalanan dakwah rasulullah S.A.W. Bahkan tidak hanya terjadi pada Nabi Muhammad S.A.W tapi juga terjadi pada perjalanan dakwah nabi-nabi sebelumnya. Betapa tingginya keimanan serta ketaatan ibunda Hajar A.S. bersama Ismail ditempatkan di tengah tanah tandus kota mekkah. Mereka berdua ditinggal bersama sekeranjang kurma dan sedikit air. Sebelum Nabi Ibrahim pergi, Ibunda Hajar bertanya kepada Nabi Ibrahim: "Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan engkau tinggalkan kami di lembah tandus ini dalam kondisi tidak ada seorang pun? Hajar A.S mengulangi ucapanya berkali kali. Namun nabi Ibrahim diam tanpa menoleh sedikitpun. Sampai pada satu pertanyaan. Wahai Ibrahim apakah Allah memerintahkan ini kepadamu? " Ibrahim menjawab: " Ya". Maka Hajar A.S berkata dengan kata-kata indah yang terkenang hingga sekarang, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami". Demikian Allah S.W.T telah memilih Hajar A.S menjadi ibu para nabi. Sebagaimana Allah telah memuliakan ibunda Musa A.S, mensucikan maryam serta memilih istri firaun menjadi calon-calon penghuni surga.
Wahai wanita mukminah, engkau tidak akan menemukan statusmu yang natural serta kemuliaanmu yang layak kecuali dalam Islam. Kemuliaanmu akan bertambah dalam penampilanmu yang pemalu sebagai pancaran iman dan dalam penjagaan dirimu yang bersih, sebersih mukena yang engkau pakai untuk sholat, atau seputih kain kafan yang kau pakai menghadap Raabmu.
Engkau tercipta untuk mengatakan kepada laki-laki: " Kalian laki-laki, tanpa kami bagaikan burung tanpa sayap, bagaikan kanan tanpa kiri, bagai langit tanpa rembulan, malam tanpa siang. " Sesungguhnya kami mengharapkan balasan pahala atas ketaatan kami kepada kalian ; 'Seperti kami mengharap balasan surga atas keikutsertaan kami membawa panji agama ini.
Engkau datang untuk memastikan peran dan tanggungjawabmu dalam melahirkan generasi islam. Sesungguhnya mereka lahir dalam kamarmu dan berkembang dalam pelukanmu. Engkau adalah sekolah bagi putra-putrimu jika kau persiapkan mereka dengan baik maka engkau sedang menyiapkan sebuah bangsa yang baik.
" Bertakwalah kepada kepada Allah dalam hal wanita. Sesunguhnya wanita bagi kalian adalah tanah subur. Mereka tidak memiliki sesuatu untuk dirinya. Mereka memiliki hak atas kalian dan kalian memiliki hak tas mereka...(HR Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar