![]() |
| Mufied Haris, Abu Bakar, Ulumuddin |
Musim semi baru saja dimulai. Dedaunan bahkan belum sempat tumbuh. Juga bunga-bunga belum sempurna bermekaran. Sesekali angin kencang masih datang. Menggoyang pepohonan dan merontokan kuncup yang belum sempat mekar.
Pukul 10.00 pagi saya sampai di masjid Al-Azhar. Tepat dua jam sebelum azan jumat dikumandangkan. Suasana masjid sudah tampak ramai. Lebih ramai dari hari-hari biasa. Setiap hari masjid ini dipenuhi mahasiswa yang sedang talaqqi (berguru langsung kepada Syaikh). Memang benar, jika masjid ini adalah tiang penyangga bagi aktivitas pengetahuan di Mesir. Setiap hari dapat dijumpai kajian ilmu bagi mahasiswa Al-Azhar dari berbagai negara.
Aura kebangkitan pengetahuan memang semakin terasa pasca revolusi mesir 25 Januari 2011. Berbagai kajian ilmu pengetahuan dibuka. Tidak terbatas pada kampus sebagai simbol pengetahuan. Namun dibanyak tempat, dengan mudah dijumpai tallaqi ilmu langsung dari para ulama Azhar. Papan pemunguman selalu penuh dengan informasi talaqqi. Mulai dari fiqh, ushul figh, hadits juga Al-Quran. Tak tanggung-tanggung Syekh Ali Jumah, mufti di dar ifta’ al misriyah terjun langsung mengisi talaqqi di masjid ini.
Tapi, hari ini suasana masjid sedikit berbeda. Berbagai spanduk ukuran besar menghiasi teras depan masjid. Terdapat gambar masjid Al-Quds di semua sepanduk. Lengkap dengan sebuah bendera palestina berukuran raksasa yang terbentang disisi kanan. Semuanya dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Ismail Haniya. Rencananya, selepas jumat Ismail Haniya akan memberikan orasi seputar masalah palestina.
Jarum jam semakin mendekati pukul 12.00. Saya langsung mengambil tempat di barisan depan. Sebuah mushaf kecil saya keluarkan dari saku jaket. Sejurus kemudian bergabung dengan orang-orang yang telah khusuk dengan tilawah Al-Quran. Sesekali saya menoleh ke belakang. Melihat-lihat seandainya sang perdana menteri datang. Namun hingga azan dikumandangkan ismail Haniya belum juga datang.
Khutbah jumat pun dimulai. Sebuah ayat dan hadits tentang persatuan menjadi pembuka. Sang khatib tampak sangat sepuh. Terlihat dari raut muka dan rambutnya yang telah memutih. Namun suaranya masih lantang terdengar. Saat semua orang sedang fokus mendengarkan khutbah. Di saat itulah Ismail Haniya memasuki masjid. Beberapa petinggi Hamas juga ikut menyertai kedatangan sang perdana menteri. Sudah diduga sebelumnya. Kedatangannya memang sengaja menunggu khutbah dimulai. Sempat terjadi beberapa insiden kecil. Namun , hanya beberapa saat saja. Setelah itu, orang-orang kembali fokus mendengarkan khutbah.
Kami menyelesaikan rekaaat jumat. Maksud hati ingin menyempurnakan dengan doa. Namun baru beberapa detik saja orang-orang langsung berdiri dan bergerak mendekati mimbar. Seketika suasana berubah. Masjid kini bergemuruh. Teriakan takbir menggema ke semua sudut. Menggetarkan tiang-tiang penyangga masjid. Yel-yel palestina semakin lantang terdengar. Belum lagi saat Ismail Haneya di daulat untuk menjadi imam sholat jenazah.
Tiba-tiba saja, darah saya seakan terhenti. Seketika tubuh menjadi merinding. Haru biru menyelimuti diri. Sampai-sampai menimbulkan genangan di kedua kelopak mata. Keharuan semakin bertambah saat sang perdana menteri menaiki mimbar. Baru saja ia memulai orasinya. Masjid kembali bergemuruh. Sejenak ia terhenti. Teriakan takbir kembali lantang terdengar.
Dan dirangkaialah kata demi kata. Nyaring tapi bertenaga. Dan dari sinilah babak baru kebangkitan umat dimulai. Dari mimbar masjid Al-azhar, seruan itu digelorakan. Dari mimbar para ulama, kemenangan itu diteriakan. Menggetarkan penduduk langit dan juga penduduk bumi.
Untukmu Al Quds
Kami akan datang
Jutaan darah syuhada
Akan kami persembahkan
Selama kurang lebih satu jam Ismail Haniya menyampaikan orasi. Setelah itu secara bergantian beberapa ulama mesir dan petinggi hamas juga menyampaikan orasi. Semua masih tetap bersemangat. Tak sedikitpun yang beranjak pergi dari masjid Azhar. Sampai pada penyampaian orasi terakhir. Semua masih tetap setia. Hingga akhir keberadaan Ismail Haniya di masjid Azhar. Lewat pengawalan yang super ketat. Haniya ditandu keluar meninggalkan kompleks masjid.
Selamat jalan sang pejuang. Kehadiranmu adalah penyempurna perjuangan. Tinta para ulama dan darah para syuhada. Keduanya telah kau satukan. Menyirami taman-taman kebangkitan. Menumbuhkan bunga dan pepohonan. Memekarkan kuncup dan menebarkan wewangian. Mari menyambut semi kebangkitan umat. Dari sini dan dari mana pun Anda berdiri. Biarkan tinta penamu melukiskan sejarah kehidupan. Atau berikan saja darahmu demi sebuah kemerdekaan. Wallahu a’lam bisshowab.
Selamat jalan sang pejuang. Kehadiranmu adalah penyempurna perjuangan. Tinta para ulama dan darah para syuhada. Keduanya telah kau satukan. Menyirami taman-taman kebangkitan. Menumbuhkan bunga dan pepohonan. Memekarkan kuncup dan menebarkan wewangian. Mari menyambut semi kebangkitan umat. Dari sini dan dari mana pun Anda berdiri. Biarkan tinta penamu melukiskan sejarah kehidupan. Atau berikan saja darahmu demi sebuah kemerdekaan. Wallahu a’lam bisshowab.
Kairo, 29 Februari 2012
Mufied Haris

Tidak ada komentar:
Posting Komentar