Amu Ahmad, begitu saya memanggil. Amu yang berarti paman. Lelaki berusia sekitar 50 tahun. Hampir setiap hari kami bertemu di Masjid. Namun tak pernah berbincang serius. Selain hanya sekedar berbalas senyum dan salam. Dari awal pertemuan, saya menduga kalau amu Ahmad adalah seorang hafidz Quran seperti kebanyakan orang mesir yang memang sudah hafal Al-Quran sejak usia dini. Selain itu, dalam banyak kesempatan saya juga sering melihat orang tua memurajaah hafalan Al-Quran dengan suaranya yang lantang lagi keras. Bahkan tanpa harus memegang atau melihat Al-Quran.Namun ternyata dugaan saya tak sepenuhnnya benar. Amu Ahmad memang seorang penghafal Al-Quran. Bahkan hafalannya bisa jadi lebih banyak dari hafalan saya yang hanya beberapa ayat. Perihal kebiasaanya yang lepas dari Al-Quran saat murajaah, bukan saja karena memang hafalanya begitu melekat. Tapi Siapa yang menyangka jika beliau ternyata mempunyai masalah dengan penglihatannya.
Saat muda amu Ahmad mengalami kecelakaan hingga menyebabkan cacat di kedua matanya. Mata sebelah kanannya sama sekali tak berfungsi. Sedang sebelah kiri masih sedikit berfungsi walaupun tidak melihat tulisan dalam mushaf.
Sebelum musibah, ia telah menyelesaikan hafalan surat Al-Baqarah. Walaupun kegiatan menghafal Al-Quran sempat terhenti. Namun tak mematahkan tekadnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Quran. Dengan kedua matanya yang "tidak lagi normal" ia masih terus bersemangat menyelesaikan hafalan Al-Quran.
Lalu bagaimana amu Ahmad bisa terus menghafal dengan kondisi yang menimpanya? Itulah yang menjadi kalimat kekaguman saya yang tak hentinya terucap. Setiap hari amu Ahmad hanya menghafal 3 ayat. Ia meminta seorang untuk membacakan tiga ayat yang akan dia hafal setiap harinya. Biasanya adalah para mahasiswa yang kebetulan satu jamaah masjid. Seperti saat ia meminta saya membacakan ayat yang akan ia hafal hari ini.
Subhanallah….. Saya hanya cukup membacakan dua kali untuk setiap ayat. Ia langsung mengulangi ayat yang saya bacakan dengan satu dua kesalahan pada pengulangan pertama. Hingga di pengulangan ke 3 beliau telah sempurna mengulang ayat yang saya bacakan. Saat bacaan ayat pertama sudah diyakini benar, ia mengulanginya hingga beberapa kali. Setelah itu, ia gabungkan dengan tiga ayat yang ia hafalkan hari kemarin. Kemudian, ia meminta dibacakan ayat yang kedua dan ketiga. Seperti ayat yang pertama saya bacakan, dipengulangan kedua ia sudah bisa menirukan bacaan saya. Setelah itu ia mengulanginya beberapa kali sebelum ia gabungkan dengan tiga ayat sebelumnya.
Setelah tambahan tiga ayat ia kuasai ia meminta saya menyimak bacaannya sebanyak satu halaman. Setelah itu, ia kembali meminta saya menyimak bacaanya sebanyak seperempat juz. Dan begitulah setiap hari amu Ahmad menjalani kegiatan menghafal Al-Quran dengan segala keterbatasan. Namun bagi beliau justru menjadi kenikmatan tersendiri.
Amu ahmad menjalani rutinitas sebagai pembersih taman. Setiap hari ia mewajibkan diri menghafal dan memurajaah Al-Quran. Tidak ada yang menyangka kalau penglihatannya tak lagi normal. Saat beliau sedang sibuk bekerja, lisan dan hatinya pun ikut sibuk mengulang hafalan Al-Quran. Saya merasa terenyuh melihat kegigihan lelaki satu ini. Di tengah kondisi fisiknya yang “ kurang sempurna” namun tak mengurungkan niatnya untuk menjadi ahlul Quran.
Inilah salah satu fenomena masyarakat mesir yang terkenal dengan jumlah penghafal Al-Quran yang tak terhitung jumlahnya. Dalam beberapa kesempatan saya juga mendapati para penghafal Al-Quran dari berbagai kalangan. Seorang polisi yang juga seorang hafidz Quran. Atau supir taksi yang pernah mengantar saya saat bersilaturahim ke seorang kawan. Juga seorang penjaga foto copy yang saya jumpai untuk keperluan foto copy passport.
Saya terus bertanya dalam hati. Mengenai kesyukuran nikmat yang Allah SWT titipkan pada diri saya? Tentang kesyukuran yang hanya terwakili oleh lisan. Tak lebih karena sikap latah dan jauh dari pemaknaan. Pun bukan dari kedalaman iman. Hingga tak sampai terapreasiasi oleh perangai saya.
Malu rasanya setiap kali mengulang ayat WAIN TA'UDDU NIKMATALLAHI LAA TUKHSUUHA.
Dan apabila engkau menghitung nikmat Allah maka niscaya engkau tidak akan mampu menghitungnya.
Semoga teguran yang Allah sampaikan lewat amu ahmad, menjadi pelajaran penting bagi kita.
Tentang, seberapa besar kesyukuran kita?
Malu rasanya setiap kali mengulang ayat WAIN TA'UDDU NIKMATALLAHI LAA TUKHSUUHA.
Dan apabila engkau menghitung nikmat Allah maka niscaya engkau tidak akan mampu menghitungnya.
Semoga teguran yang Allah sampaikan lewat amu ahmad, menjadi pelajaran penting bagi kita.
Tentang, seberapa besar kesyukuran kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar